Senin, 28 Mei 2012

Deteksi Dini Penyakit Otak "Alzheimer"



Deteksi Dini Penyakit Otak "Alzheimer"




Alzheimer bukan penyakit menular, melainkan merupakan sejenis sindrom dengan apoptosis sel-sel otak pada saat yang hampir bersamaan,sehingga otak tampak mengerut dan mengecil. Alzheimer juga dikatakan sebagai penyakit yang sinonim dengan orang tua.



Secercah Harapan Diagnosis Alzheimer

Dalam beberapa tahun mendatang, para pakar medis memperkirakan terjadi peningkatan drastis pasien penderita demensia. Peningkatan dua kali lipat jumlah manusia berusia lanjut merupakan penyebabnya. Saat ini, ada 36 juta orang di seluruh dunia menderita penyakit Alzheimer – bentuk lain demensia. Di Jerman saja, saat ini terdapat satu juta pasien Alzheimer.

Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan Alzheimer, tapi sekelompok peneliti dari München kini membawa secercah harapan.
Di dalam otak pasien Alzheimer, tepatnya di luar dan dalam sel-sel syaraf terdapat penumpukan protein amiloid beta dan tau, kedua protein ini diproduksi oleh tubuh. Masih belum diketahui mengapa tubuh memproduksi protein tersebut. Penumpukan protein itu mengganggu fungsi-fungsi penting sel dan menghalangi komunikasi antar sel syaraf. Akibatnya, sel-sel otak perlahan mati dan otak mengerut – tergantung dari tingkat keparahan penyakit itu hingga 20 persen. Daya ingat pasien akan hancur, disorientasi waktu, ruang dan diri, tidak bisa mengendalikan emosi, dan tidak lagi bisa mengurusi diri sendiri serta menjalani kehidupan sehari-hari seperti sebelumnya. Pada akhirnya pasien Alzheimer kehilangan kepribadiannya dan memerlukan perawatan seumur hidup.
Ahli medis hingga kini tidak mampu berbuat lebih. Masalah dimulai pada diagnosis awal. Diperlukan waktu hingga 20 tahun sampai sifat pelupa dan pikun muncul sebagai gejala khas demensia – selama itu otak seringkali masih bisa mengkompensasi hilangnya sel-sel. Kemudian terkadang semuanya sudah terlambat. 30 persen sel-sel otak bisa saja sudah telanjur rusak. Menurut hasil penelitian aktual, penyakit ini belum ada penyembuhannya. Hingga kini masih sangat sedikit obat-obatan yang menjanjikan kesembuhan, sama pun halnya dengan metode diagnosis ini.

Penanganan Sebelumnya

Neuropatolog asal München, Professor Jochen Herms, bersama 20 rekan tim penelitinya akan mengubah situasi pengobatan Alzheimer. Selama ini diperlukan pencitraan resonansi magnetik (bahasa Inggris: Magnetic Resonance Imaging, MRI) yang rumit dan mahal, atau prosedur kedokteran nuklir, percakapan panjang dengan keluarga dan serangkaian tes untuk mendiagnosa Alzheimer.
Di masa depan mendiagnosis Alzheimer cukup dengan melihat mata pasien. Herms mengembangkan tesis yang menyebut bahwa retina mata pasien Alzheimer menunjukkan perubahan patologis. Hal ini bisa mendeteksi apa saja yang terjadi di dalam otak – dan jauh sebelum gejala khas Alzheimer muncul. Penyakit itu nantinya akan ditangani sebelum munculnya kerusakan permanen.
Herms saat ini berusaha membuktikan dan menggambarkan hubungan antara perubahan pada retina dan otak. Sampel yang digunakan dalam percobaan yang dilakukan tim Herms adalah sampel otak dan retina pasien Alzheimer yang sudah meninggal dan tikus rekayasa genetika yang dibuat menderita Alzheimer. Dalam waktu bersamaan, Institut Clemens Schöpf di Universitas Darmstadt mencari bahan pewarna yang bisa memperlihatkan perubahan pada retina. Studi klinis di klinik mata Universitas Jena meneliti perubahan retina pada pasien Alzheimer, yang penyakitnya sudah berada di stadium lanjutan – dan para ahli optik Carl-Zeiss di Jena mengembangkan alat pemindai retina dengan laser.
Proyek penelitian ini akan berlangsung selama tiga tahun dan bernilai sekitar tiga juta Euro. Seluruh dananya dibiayai oleh sponsor, terutama kementerian pendidikan dan penelitian Jerman (BMBF). Pada akhir 2011 hasil penelitian tersebut akan dipublikasikan – dan dengan begitu akan terbit secercah harapan bagi jutaan pasien Alzheimer.



Alzheimer




Mengamati Tingkat Keparahan Alzheimer